PEKANBARU — Pelaksana Tugas Gubernur Riau, SF Hariyanto, membuka rangkaian sosialisasi kepatuhan investasi terpadu bagi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) melalui pengawasan berbasis risiko, Rabu (13/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Menara BRK Syariah itu turut dihadiri Staf Ahli Bidang Ekonomi Makro dan Direktur Wilayah I Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Republik Indonesia.
Dalam sambutannya, SF Hariyanto menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan investor guna mencapai target investasi Provinsi Riau tahun 2026 sebesar Rp72,5 triliun.
“Ini juga berjalan seiring dengan penguatan ekonomi daerah serta memastikan investasi di daerah benar-benar terealisasi, tertib, dan memberikan dampak bagi pembangunan daerah,” katanya.
Menurutnya, dukungan pemerintah pusat sangat dibutuhkan untuk memperkuat kebijakan investasi, memfasilitasi penyelesaian hambatan usaha, serta menyinkronkan kebijakan pusat dan daerah demi mempercepat realisasi investasi di Riau.
SF Hariyanto juga memaparkan kondisi ekonomi Riau yang mulai menunjukkan transformasi positif ke sektor nonmigas. Berdasarkan data Triwulan I Tahun 2026, ekonomi Riau tumbuh 4,89 persen, sedangkan sektor nonmigas tumbuh lebih tinggi yakni 5,86 persen.
“Ini menunjukkan bahwa penguatan sektor industri pengolahan, perkebunan, perdagangan, dan jasa mulai memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” tambahnya.
Ia berharap perhatian pemerintah pusat tidak hanya terfokus pada kawasan investasi yang sudah berkembang, tetapi juga mendorong wilayah potensial lainnya agar pertumbuhan ekonomi di Riau semakin merata.
“Keberhasilan investasi bukan hanya diukur dari besarnya PMA dan PMDN yang masuk, tetapi bagaimana investasi tersebut mampu membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kapasitas fiskal daerah,” katanya.
Lebih lanjut, SF Hariyanto menilai investasi yang tumbuh sehat dan tertib akan berdampak langsung terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta kesejahteraan masyarakat.
“Kalau investasi tumbuh dan tertib, maka dampaknya akan langsung terasa terhadap penguatan PAD daerah dalam menurunkan gini rasio dan mampu memberikan multiplayer efek bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Riau,” ujarnya dikutip dari MCRiau.